Ridho Ari Indiarto
Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul, Jakarta
Jalan Arjuna No.9 Kebon Jeruk Jakarta 11510
Ridhoai732@gmail.com
PENDAHULUAN
Jika berbicara soal anak, semua orang punya keinginan yang sama. Sewaktu anak tersebut lahir, orangtua ingin sekali memiliki anak yang tumbuh dengan sehat dan lucu. Demi asa tersebut orangtua tak segan mengeluarkan biaya dan tenaga. Tapi ternyata, sehat dan lucu saja belum cukup. Beranjak anak tersebut besar dan memasuki jenjang sekolah, orangtua ingin anak-anaknya menjadi anak yang cerdas dan mengukir segudang prestasi. Demi harapan itu, orangtua rela menguras otak dan mengerahkan segala usaha. Tapi ternyata, cerdas serta mengukir segudang prestasi saja juga belum cukup.
Beranjaklah anak-anak tersebut memasuki masa remaja. Masa-masa dimana anak-anak merasa sudah dewasa karena tubuh dan postur mereka yang sudah menyerupai orang dewasa. Tapi di sisi yang lain, pemikiran mereka masih rapuh dan labil serta memerlukan bimbingan yang lebih intensif lagi untuk mereka memasuki kehidupan remaja mereka hingga akhirnya mengantarkan mereka kepada kedewasaan. Salah satu faktor yang dapat membentuk konsep diri remaja adalah lingkungan keluarga, yaitu pola pengasuhan orangtua. Pola asuh merupakan cara orangtua membesarkan anak dengan memenuhi kebutuhan anak, memberi perlindungan, mendidik anak, serta mempengaruhi tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari (Baumrind dalam Bee & Boyd, 2004).
Adapun tujuan orangtua mengasuh anaknya adalah untuk membentuk kepribadian yang matang. Dengan pengasuhan orangtua tersebut maka remaja akan belajar tentang peran-peran yang ada dalam masyarakat seperti nilai-nilai, sikap serta perilaku yang pantas dan tidak pantas, atau baik dan buruk. Segala perlakuan dari orangtua terhadap remaja sejak masa kanak-kanak, akan memberikan makna tertentu. Pemberian makna itulah yang disebut sebagai persepsi remaja terhadap pola asuh orangtua.
Hasil penelitian mengatakan bahwa interaksi orangtua dan anak merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk konsep diri (Malik, 2003). Remaja membutuhkan teladan orangtua sebagai dasar tingkah lakunya di lingkungan. Tentunya teladan tersebut diterima remaja melalui pengasuhan orangtua sehari-hari. Dengan pengasuhan tersebut akan muncul persepsi remaja terhadap pola pengasuhan yang diterapkan orangtua dan akan menjadi dasar bagi remaja dalam menilai diri sendiri.
Apa arti penting pendidikan agama pada remaja? Betapa sering kita mendengar orangtua yang pusing tujuh keliling, panik bukan kepalang, karena anak yang semasa kecil sehat dan lucu saat ini menjadi remaja dengan begitu banyak permasalahan. Pergaulan bebas, hamil diluar nikah, memakai narkoba, dan perilaku-perilaku remaja yang menyimpang lainnya. Berapa banyak orangtua yang geram karena remajanya yang berprestasi luar biasa dan cerdas tak terkira ternyata tega mendurhakai dan membohongi orangtuanya. Betapa pilu hati saat melihat orangtua yang bekerja keras, memeras keringat, banting tulang demi masa depan remajanya tapi bagaikan pepatah “senjata makan tuan”, para remaja berani bersikap tidak hormat bahkan menodai kepercayaan dan kehormatan orangtuanya. Inilah arti penting pendidikan agama pada remaja karena agama adalah sebagai landasan bersikap, berfikir, pedoman dan gaya hidup yang harus menjadi panduan dan tuntunan bagi para remaja agar fase remaja mereka tidak menjadi fase yang justru berbalik menjadi titik kelam kehidupan mereka yang dikhawatirkan akan membuat masa dewasa mereka pun menjadi lebih buruk.
KAJIAN TEORI
Seperti apa pola asuh yang tepat untuk memberikan dukungan pendidikan agama kepada remaja? Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang didalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosi, penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan, yang memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya (Sarafino, 2002). Dalam hal ini, pola asuh yang diterapkan oleh orangtua juga harus didukung oleh metode pembelajaran agama yang tepat agar lebih optimal dalam pendidikan agama para remaja. Mengenai metode pembelajaran agama yang tepat maka para orangtua saat ini memiliki banyak sekali referensi pengetahuan melalui buku-buku pendidikan anak yang dapat orangtua pilih sesuai dengan kecondongan mereka.
Metode pembelajaran yang tepat menurut Choiriyah dan Al-Atsary (2010) ada delapan metode. Kedelapan metode tersebut adalah sebagai berikut: Pertama metode keteladanan, kedua metode bimbingan dan nasihat, ketiga metode kisah dan cerita, keempat metode mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa dan kejadian, kelima metode pembiasaan, keenam metode memanfaatkan waktu luang, ketujuh metode pemberian motivasi dan kedelapan metode pemberian hukuman. Kedelapan metode ini harus digunakan secara aktif dalam melaksanakan pola asuh pendidikan agama kepada remaja dan terutama dilakukan oleh orangtua. Dalam pembahasan nantinya kita akan lebih memperdalam lagi metode pembelajaran ini dan implementasinya dalam pendidikan agama bagi remaja dalam keluarga.
PEMBAHASAN
Menurut Bakkar (2011) kesalahpahaman yang sering menimpa para pendidik dan orang tua adalah karena mereka tidak dapat membedakan antara makna mengasuh dan mendidik. Mengasuh adalah menyediakan makanan, pakaian serta segala sarana hidup yang layak. Adapun mendidik adalah menunjukkan jalan yang benar atau salah, halal atau haram, apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya ditinggalkan dan sebagainya. Dalam hal ini pembahasan utama kita adalah dengan berpedoman pada nilai-nilai agama. Masih menurut Bakkar (2011), perlu kita ketahui bahwa seseorang yang cinta kepada agama dan berusaha semaksimal mungkin melaksanakannya dengan baik akan lebih berbakti kepada kedua orangtuanya dibandingkan dengan mereka yang kurang peduli dengan ajaran agama. Hal ini dikarenakan salah satu perintah agama kepada manusia adalah keharusan berbakti kepada orangtua mereka. Sebab ia ingin menjadi manusia yang dicintai Allah, mendapatkan taufiqnya dan selalu ingin melakukan kebaikan-kebaikan yang lebih banyak lagi.
Mengenai pola asuh yang harus ditempuh dalam pendidikan agama bagi remaja dalam keluarga, seyogyanya tiga pola asuh dapat diterapkan sesuai dengan tempat dan karakteristiknya masing-masing. Ketiga pola asuh yang dimaksud adalah pola asuh otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permissif. Pola asuh otoriter contohnya, harus diterapkan saat kita menanamkan hal-hal yang berkaitan dengan halal dan haram, kewajiban dan larangan dalam norma-norma agama. Pola asuh permisif dan demokratis dapat diterapkan pada hal-hal yang mubah (diperbolehkan) dan merupakan keluasan dalam melaksanakan norma-norma ataupun syariat agama.
Dalam pendidikan agama bagi remaja dalam keluarga, sebenarnya ada banyak hal dalam keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya sebagai orangtua dan pendidik kita berusaha keras agar semua kesempatan ini tidak terlewat begitu saja. Untuk itu kita memerlukan metode sehingga setiap detik kebersamaan kita bersama para remaja bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga baginya. Dengan diterapkannya metode-metode tersebut diharapkan proses pendidikan akan berlangsung setiap waktu, tanpa para remaja merasa terus digurui oleh orangtua dan orangtua pun tidak merasa terbebani.
Berikut ini akan kita bahas metode-metode menurut Choiriyyah dan Al-Atsary (2010) yang telah kita sebutkan sebelumnya. Pertama adalah metode keteladanan. Orangtua harus menjadi role model dan contoh teladan bagi remaja. Jadilah potret nyata dalam melaksanakan kewajiban agama maupun kebaikan yang orangtua ajarkan. Dan tidak lupa jadilah contoh nyata meninggalkan yang dilarang oleh agama maupun keburukan yang orangtua larang. Seperti pepatah yang menyatakan, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” maka jadilah orangtua yang akan bisa menjadi teladan bagi anak remajanya.
Kedua adalah metode bimbingan dan nasihat. Orangtua harus membimbing dan menasihati para remaja dengan penuh kasih sayang. Jiwa remaja adalah jiwa yang akan terpengaruh dengan kata-kata yang disampaikan kepadanya. Apalagi jika kata-kata itu dihiasi dengan keindahan dan kelembutan. Sebagaimana ungkapan hikmah, “Bicaralah dari hati niscaya ucapanmu akan masuk ke dalam hati” maka bicaralah kepada anak dengan bahasa hati agar dapat diterima pula oleh hati mereka.
Ketiga adalah metode kisah dan cerita. Kisah nyata yang diceritakan kepada para remaja memiliki pengaruh yang sangat besar kepada jiwanya. Kisah nyata ini dapat memperkokoh ingatan dan kesadaran berfikirnya sehingga sebuah hikmah atau pelajaran akan mudah dicerna remaja dan dipahami akal bila dengan ilustrasi cerita serta berpengaruh pada perasaan remaja dengan kuat. Keempat adalah metode mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa dan kejadian. Mendidik para remaja berlangsung setiap hari dan peristiwa sehari-hari sebenarnya adalah peristiwa besar meskipun terlihat sepele. Pendidik yang cerdas akan selalu mengambil setiap kejadian sebagai pengarahan, bimbingan, pengajaran dan sarana perbaikan untuk meluruskan jika ada hal-hal yang salah.
Kelima adalah metode pembiasaan. “Alah bisa karena biasa” kata pepatah yang menunjukkan pentingnya pembiasaan. Membiasakan para remaja untuk melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang buruk. Tanamkan kepada mereka kebiasaan melakukan kebaikan akan membawa keberuntungan bagi mereka dalam langkah kaki menapaki masa remaja.
Keenam adalah metode memanfaatkan waktu luang. Betapa banyak remaja yang jatuh dalam kejelekan dan penyimpangan disebabkan banyaknya waktu luang yang tidak tahu akan diisi oleh apa. Hal ini akhirnya membuat para remaja rentan terjatuh dalam perbuatan buruk. Dorong para remaja untuk mengisi waktu kosong dengan kebaikan dan hal yang bermanfaat hingga tidak dimasuki oleh keburukan dan kerusakan. Luangkan waktu untuk membersamai, menemani dan membimbing serta beraktifitas bersama para remaja di waktu luang.
Ketujuh adalah metode pemberian motivasi. Berikanlah motivasi positif kepada remaja baik berupa hal yang konkrit (hadiah) maupun maknai ketika mereka melakukan kebaikan. Seiring dengan itu teruslah menggali apa yang menjadi bakat dan potensi mereka. Motivasi mereka untuk berusaha dengan keras dan bersaing secara sehat melalui lomba yang positif sesuai dengan bakat dan potensi mereka.
Kedelapan adalah metode pemberian hukuman. Sebagian orang sangat anti dengan pemberian hukuman padahal hal ini bisa jadi metode yang sangat manjur dalam meluruskan kekeliruan remaja bila dilakukan dengan cara dan dosis yang benar. Dan tidak lupa pemberian hukuman pun dilakukan saat terjadi penyimpangan atau kesalahan yang semakin parah dan telah melalui proses nasihat dengan cara yang baik dan halus. Tidak lupa diimbangi pula dengan pemberian pujian dan balasan yang baik atas kebaikan yang mereka lakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Bakkar, N. B. U. (2011). 100 Kiat Bagi Orang Tua. Jakarta: Perisai Qur’an
Bee, H., & Boyd, D. (2004). The Developing Child. 10th ed. Pearson Education.
Choiriyah, U. I., & Al-Atsary, A. I. (2010). Mencetak Generasi Rabbani. Bogor: Darul Ilmi
Malik, M. A. (2003). Pengaruh Kualitas Interaksi Orang tua-Anak dan Konsep Diri Terhadap Kecerdasan Emosional Pada Siswa SMU di Makasar. Jurnal Psikologi, 1, 51-63. Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makasar.
Respati, S. W., Yulianto, A., & Widiana, N. (2006). Perbedaan Konsep Diri Antara Remaja Akhir Yang Mempersepsi Pola Asuh Orangtua Authoritarian, Permissive Dan Authoritative. https://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Journal-4977-ibuwin.pdf
Rozali, Y. A. (2016). Peran Pola Asuh Orang Tua Dalam Membentuk Keterampilan Sosial Remaja [Versi PDF]. Diunduh dari https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Formil/article/download/1402/1277
Sarafino, E. P. (2002). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. New Jersey: HN Wiley
Suciahi, D., & Rozali, Y. A. (2014). Hubungan Dukungan Sosial Dengan Motivasi Belajar Pada Mahasiswa Universitas Esa Unggul. https://media.neliti.com/media/publications/126710-ID-hubungan-dukungan-sosial-dengan-motivasi.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar